Kamis, 23 Januari 2014

Dasar Analisis Teknikal Saham



Merupakan salah satu metode yang digunakan untuk mengevaluasi saham dengan berbasis pada data statistik yang dihasilkan dari aktivitas perdagangan saham, seperti harga saham dan volume trannsaksi.
            Satu dasawarsa terakhir, analisis teknikal sangat popular di pasar saham. Mulai dari investor, analis, pengamat besar, bahkan manajer investasi, sering menyertakan analisis teknikal dalam setiap kesempatan. Analisis teknikal ini merupakan upaya memperkirakan harga saham (kondisi pasar) dengan mengamati perubahan harga saham tersebut (kondisi pasar) di waktu yang lalu. Secara singkat, analisis teknikal dapat dikatakan sebagai analisis sekuritas dengan menggunakan grafik harga dan volume historis.
            Analisis teknikal digunakan untuk mengetahui tren atau kondisi psikologis sebuah pasar. Analisis teknikal pada dasarnya merupakan upaya untuk menentukan kapan akan membeli (masuk ke pasar) atau menjual saham (keluar dari pasar), dengan memanfaatkan indikator-indikator teknis ataupun menggunakan analisis grafis. Beberapa indikator teknis yang sering dipergunakan adalah moving average, stochastic oscillator, relative strength index, volume perdagangan, dan lain-lain. Sedangkan pola-pola chart yang sering digunakan antara lain head and shoulders, double tops, triple tops, dan ascending and descending triangles.

Pasar Saham dan Siklus

            Bicara tentang pasar saham, apakakah siklus yang terjadi di pasar saham? Sama seperti di kehidupan nyata yang memilki banyak siklus dari yang terkecil seperti hari, minggu, dan bulan hingga yang terbesar seperti tahun, dekade dan abad maka pasar saham pun memiliki beragam siklus didalamnya. Siklus terpendek yang ada di pasar saham adalah siklus harian, dimana faktor rumor dan keserakahan manusia memainkan peranan penting dalam gerakan siklus ini, sementara siklus terbesar yang akan ditemui oleh seorang investor di pasar saham adalah siklus yang terjadi karena kondisi ekonomi atau yang kita kenal sebagai “ground cycle” dengan rentang waktu 8-10 tahun sekali. Berikut adalah gambaran berbagai siklus yang terjadi di pasar saham dimulai dari yang terpendek hingga yang terpanjang.

Gambar 2.1 Grand Cycle
            Satu hal yang menarik dari gambaran diatas adalah perbedaan tenaga penggerak yang dimilki oleh setiap siklus. Pada siklus harian harga saham digerakkan lebih oleh karena “feer and greed” dari setiap investor yang ada di dalamnya. Sedangkan pada siklus monthly maka faktor kebijakan pemerintah seperti inflasi dan suku bunga adalah hal yang sangat penting bagi pergerakan siklus ini. Pada sisi lain siklus yearly juga memiliki faktor penggerak yang sangat berbeda seperti yaitu kondisi keuangan perusahaan seperti yang tercermin dalam laporan keuangan yang dipublikasikan setiap 3 bulan sekali, dan yang terakhir adalah siklus grand cycle yang tenaga penggeraknya adalah perubahan kondisi daya beli masyarakat dan hubungannya dengan perputaran ekonomi. Itulah empat siklus utama yang terjadi di pasar saham berserta faktor penggerak, dengan menggunakan contoh sederhana, yang membuat siklus tersebut dapat terjadi.

Mengetahui Tujuan Anda
Lalu apakah pentingnya mengetahui siklus-siklus tersebut? Tujuan terutama bagi investor untuk mengetahui siklus yang ada pada pasar saham adalah agar ia dapat menyesuaikan pola gerakan dalam siklus tersebut dengan tujuan investasinya. Sebagai contoh bagi investor berjangka pendek yang memiliki tujuan investasi untuk mendapatkan pendapatan bulanan maka itu berarti ia harus memperhatikan siklus harian dalam keputusan investasinya dan bukan siklus bulanan apalagi “grand cycle” yang terjadi setiap 10 tahun sekali. Siklus tersebut dipilih karena melalui siklus itulah ia akan dapat meraih tujuan investasinya dan bukan pada siklus tahunan dengan faktor pendorong yang jelas berbeda. Dengan menggunakan dasar dari tujuan dan faktor penggerak tersebut kemudian investor dapat menentukan strategi dan alat analisa yang cocok untuk ia dapat meraihnya tujuan investasinya. Sebagai contoh untuk investor yang bergerak dalam siklus harian, dengan faktor penggerak utama adalah “feer and greed”, maka ia dapat menggunakan alat analisa seperti chart pattern, indikator TA, atau sekedar rumor.
           

Sementara pada sisi lain, seorang investor dengan tujuan investasi memiliki dana pensiun pada 20 tahun mendatang maka jelas adalah kebodohan baginya jika ia bergerak dalam siklus harian atau bulanan. Siklus yang tepat bagi investor dengan tujuan investasi seperti ini adalah dengan menggunakan siklus “grand cycle” dan berselancar seiring perubahan ekonomi yang terjadi pada siklus tersebut. Adapun contoh dari gerakan “grand cycle” terlihat seperti pada gambar dibawah ini.


 






Gambar 2.2 Siklus Grand Cycle

·         Pemulihan - kemakmuran :
Produksi melimpah, Investasi melimpah, Bunga rendah, Likuiditas mudah, over investment, dan harga barang naik.

·         Kemakmuran­ - kontraksi :
Harga barang kemahalan, Daya beli turun, Kredit batuk, Perang tarif antar negara export-import.

·         Kontraksi - resesi :
Likuiditas seret, Bunga tinggi, Kredit macet, Pabrik kurangi produksi, Pengangguran bertambah, Harga makin murah.

·         Resesi - pemulihan
Harga murah, Daya beli bergairah kembali, investment mulai lagi.
            Atau dengan kata lain bagi investor yang berinvestasi untuk tujuan jangka panjang seperti dana pensiun makan penurunan san kenaikan yang terjadi di pasar saham pada siklus harian bukanlah hal yang utama. Karena bagaimanapun hal tersebut hanya akan menjadi “noise”saja dalam perjalanan investasinya.
            Nah sekarang pertanyaannya adalah dimanakah anda? Tentu jawaban dari pertanyaannya tersebut sangat erat kaitannya dengan tujuan investasi anda sendiri. Jika anda belum menentukan tujuannya anda berinvestasi maka tidak ada gunanya kita mengetahui seluruh siklus yang ada di pasar saham, karena anda malah akan dibuat bingung dengan segala pertentangan yang ada didalamnya. Tetapi sebaliknya jika anda telah mengetahui tujuan investasi anda maka pengetahuan anda akan siklus di pasar saham akan membantu anda untuk dapat berselancar dengan nikmat yang pada akhirnya mengantarkan anda menjadi pemenang di pasar saham. Jadi apakah tujuan investasi anda?

Lembaga Keuangan



Lembaga Keuangan
Adalah usaha yang mengelola kekayaannya berbentuk aset keuangan atau tagihan (claims)
Klasifikasi lembaga keuangan :
  1. lembaga keuangan depositori (depository intermediary)
    menghimpun dana secara langsung dari masyarakat dalam bentuk simpanan (deposits) misal : tabungan, giro, deposito lembaganya adalah bank
  1. lembaga keuangan non depository (lembaga keuangan bukan bank)
    kegiatan usahanya bersifat kontraktual (contractual institutions) yaitu menarik dari masyarakat dengan menawarkan kontrak untuk memproteksi penabung terhadap resiko ketidakpastian, misal : polis asuransi, program asuransi dan investasi seperti : modal ventura perusahaan pembiayaan (finance company) menawarkan jasa pembiayaan, sewa guna usaha, kartu kredit
Peran Lembaga Keuangan :
  1. pengalihan aset (asset transmutation)
    pembiayaan aset dengan dana yang diperoleh dari unit surplus ke unit defisit dengan jangkauan waktu yang telah dibuat dalam kesepakatan
  1. likuiditas
    memperoleh uang tunai dengan mudah dicairkan pada saat dibutuhkan misal : sekuritas sekunder (giro, tabungan, deposito)
  1. alokasi pendapatan
    sebagian keuntungan atau pendapatan diperoleh dan dialokasikan untuk kredit macet (black list) dan kebutuhan dijangka mendatang
  1. transaksi
Faktor penyebab meningkatnya peran lembaga keuangan :
    1. meningkatnya pendapatan masyarakat
    2. perkembangan industri dan tekhnologi
    3. denominasi instrumen keuangan
    4. skala ekonomi dan produk jasa-jasa
    5. jasa-jasa likuiditas
    6. keuntungan jangka panjang
    7. resiko lebih kecil
Metode Transfer Dana Dalam Lembaga Keuangan :
v Pembiayaan Langsung (direct finance)
Adalah pembiayaan secara langsung oleh pemilik dana kepada peminjam tanpa melibatkan lembaga intermediasi atas dasar kesepakatan
Kelemahan :
¤ peminjam dan pemilik dana harus memiliki keinginan yang sama (coincidece of wants) untuk mempertukarkan jumlah dana yang sama besarnya dan dengan jangka waktu yang mereka inginkan
¤ peminjam dan pemilik dana mengeluarkan dana untuk bernegosiasi
¤ peminjam mencari unit surplus yang bersedia menerima surat utangnya dengan jangka waktu yang diinginkan
¤ resiko besar pada surat bukti utang yang dikeluarkan
v Pembiayaan Semi Langsung (semi direct finance)
Adalah proses pertukaran dana dengan surat utang antara unit surplus dengan unit defisit dilakukan dengan melalui jasa lembaga intermediasi keuangan
Melalui intervensi pihak broker dan dealer (investment bank)
Broker (individu atau lembaga keuangan yang menyediakan informasi mengenai pembelian dan penjualan surat-surat berharga)
Dealer (membeli surat-surat berharga dengan tujuan menjual dengan harga lebih tinggi)
v Pembiayaan Tidak Langsung (indirect finance)
Adalah pembiayaan dengan bantuan lembaga intermediasi keuangan, misal : bank, perusahaan asuransi, dana pensiun
Pertimbangan memanfaatkan lembaga intermediasi :
  1. keamanan dan resiko kredit
  2. likuiditas
  3. aksefibilitas (pemanfaatan jasa-jasa intermediasi)
  4. kemudahan
Jenis-jenis intermediasi keuangan :
    1. intermediasi denomisasi
      lembaga intermediasi menerima tabungan dalam jumlah kecil kemudian memberi kredit dalam jumlah yang besar
    1. intermediasi resikomemberikan kredit kepada unit defisit dengan berbagai resiko dan menarik (menghimpun) dana dari unit surplus
    1. intermediasi jatuh tempo
      menerima simpanan pada umumnya dalam jangka pendek kemudian memberikan pinjaman dalam jangka panjang
    1. intermediasi informasi
      proses penyedia informasi kepada nasabah tentang perkembangan pasar
    1. intermediasi mata uang
      menerima tabungan dari berbagai mata uang untuk memenuhi kebutuhan mata uang yang diinginkan
Dis Intermediasi Keuangan
Adalah penarikan dana dari lembaga keuangan oleh penabung (ultimate lender) dan meminjamkan dana secara langsung kepada peminjam (ultimate borrower)
Hal-hal pokok yang diperhatikan manajemen dalam pengambilan keputusan :
  1. manajemen aktiva (asset management)
  2. manajemen utang (liability management)
  3. manajemen modal (capital management)
  4. pengendalian biaya (cost controlling)
  5. kebijakan pemasaran (marketing policy)
Resiko lembaga keuangan :
    1. likuiditas (mampu memenuhi semua penarikan dana, misal : giro, tabungan, deposito)
    2. resiko solvensi (ketidakmampuan memiliki kewajiban untuk jangka panjang)

Pembumian Ekonomi Islam



Awal agama Islam masuk ke Indonesia melalui kehidupan dalam bidang ekonomi yaitu lewat jalur perdagangan antar bangsa dalam suasana tentram dan damai. Pendekatan lewat perniagaan dan kedamaian yang dipergunakan oleh para dai, yang notabene, para pedagang dan saudagar itu ternyata sangat cocok dengan kondisi sosiokultural masyarakatnya sehingga Islam cepat berkembang hingga kepelosok bumi nusantara.
Sayang sekali, masuknya Islam ke Indonesia ini bersamaan waktunya, di satu pihak, dengan melemahnya kekuatan-kekuatan dunia Islam global di hampir seluruh bidang kehidupan dan bangkitnya kembali dunia Barat dengan energi dan semangat baru (renaissance) di pihak yang lain.
Dalam kurun waktu dari permulaan Islam masuk ke Indonesia, sampai paruh pertama abad dua puluh ini, para ulama dan tokoh masyarakat Islam di Indonesia kurang atau tidak memikirkan bagaimana nasib ekonomi umat Islam. Mereka agaknya kurang waktu untuk memikirkan dan menggali sistem ekonomi Islam tersendiri, yang rohnya diambil dari Al-Qur’an dan as-Sunnah. Kondisi ini mengingatkan bahwa peranan Islam dalam peradaban dunia sangat berpengaruh terutama di Indonesia, khusus dalam bidang ekonomi yang kurang dapat perhatian khusus.
Namun memasuki abad modern sekarang menjadi sebuah kenangan Indonesia bahwa selama kurun waktu enam tahun sejak tahun 1992 hingga 1998 hanya ada satu bank Islam di Indonesia yaitu Bank Muamalat Indonesia (BMI). Dan dimana waktu itu telah terjadi krisis moneter yang melanda negeri ini, Namun bank tersebut masih tetap eksis dengan sistem yang digunakan. Sedangkan banyak bank swasta pada saat itu mengalami likuidasi. Kemudian, muncul sebuah angin segar dari regulator Bank Indonesia dengan disahkannya UU Perbankan No. 10/1998, telah memberikan landasan luas bagi berdirinya perbankan syariah di Indonesia dan memberikan peluang bahwasanya bank yang memiliki prinsip dengan sistem Bagi Hasil mampu memberikan keuntungan, keadilan bahkan keberkahan bagi umat.
Memang masih disadari bahwasanya peranan bank syariah masih belum optimal hanya kurang lebih 2% market share diperoleh dari bank nasional. Ditambah juga perbankan syariah itu kenyataannya masih berkonsentrasi pada masyarakat perkotaan dan lebih melayani kepada usaha-usaha menengah ke atas. Sementara mayoritas Muslimin berada di pedesaan dan memilki usaha yang relatif kecil dan terbatas belum mendapatkan akses yang optimal kepada sistem perbankan syariah.
Karena itulah dikembangkan lembaga-lembaga keuangan syariah yang dapat berinteraksi dengan umat di pedesaan dengan kemudahan memberikan pembiayaan usaha-usaha kecil dan mikro. Lembaga-lembaga keuangan syariah ini adalah Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) dan Baitul Mal Wattamwil (BMT). Barangkali unit-unit keuangan syariah kelas mikro inilah yang memberikan keunikan dari perkembangan lembaga keuangan syariah di Indonesia dibandingkan dengan yang berkembang di negara-negara Islam lainnya.

Sumber: http://hndwibowo.blogspot.com/2008/06/pembumian-ekonomi-islam.html